Health Pool

The groundwork for all happiness is good health. Leigh Hunt

Perawat Kesehatan Komunitas: Definisi dan peran dalam Promosi Kesehatan

11 July 2017 - dalam Keperawatan Kesehatan Komunitas dan Primer Oleh sethohadisuyatmana-fkp

Seringkali dipahami bahwa terminologi promosi kesehatan sebagai upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang lebih luas dibandingkan dengan definisi dari upaya pencegahan penyakit dan kesakitan (disease prevention). Seringkali di antara kita menyebutkan contoh-contoh sederhana seperti kerja bakti di kampung, atau cuci tangan yang dipahami sebagai upaya promosi kesehatan, yang mencegah lebih dari satu penyakit. Di lain sisi, ketika perawat diminta untuk melakukan promosi kesehatan, seringkali permintaan tersebut ditanggapi dan diimplementasikan kedalam bentuk pendidikan kesehatan. Kemudian, ketika perawat diminta memberikan pendidikan kesehatan, seringkali diimplementasikan ke dalam bentuk penyuluhan.

 

Padahal, promosi kesehatan tidak selalu berbentuk pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan tidak selalu berbentuk penyuluhan. Bentuk promosi kesehatan tidak hanya pendidikan kesehatan yang membentuk awareness dan knowledge saja. Namun, dapat berarti pembentukan skill dan kompetensi target utama maupun pihak-pihak yang berkepentingan atas target utama promosi kesehatan. Di lain sisi, pendidikan kesehatan tidak melulu berbentuk penyuluhan atau ceramah. Ceramah hanya merupakan metode pendekatan. Banyak sekali alternatif metode yang lain. Jika target pendidikan belum familiar terhadap topic yang diberikan, mungkin ceramah cocok menjadi pilihan utama. Namun jika jumlah target adalah individu atau dalam kelompok kecil, maka bentuk ceramah kurang cocok. Sebagai contoh lain, jika target pendidikan kesehatan telah memiliki bekal pengetahuan tentang topik  yang diberikan, ceramah menjadi pilihan yang kurang tepat. Metode lain yang dapat dijadikan alternatif bisa saja buzz-group discussion, tutorial, peer teaching, brainstorming, dan bentuk-bentuk lainnya.

 

Namun, pemahaman terhadap promosi kesehatan tidak sesederhana pendidikan kesehatan saja. Dunia kesehatan, telah bersepakat bahwa upaya promosi kesehatan terdiri atas lima pilar strategi dan tiga pendekatan yang telah ditetapkan WHO dalam piagam Ottawa (Ottawa Charter) tahun 1986. Pada pilar yang pertama, promosi kesehatan mentargetkan sasaran utama pelaku kesehatan (sasaran primer) dengan luaran peningkatan kemampuan, pengetahuan, dan kemauan dari setiap individu yang terlibat (individual skills). Seperti contohnya, pada program pelatihan cuci tangan pakai sabun pada siswa SD, maka pengetahuan, kemampuan dan kemauan siswa menjadi sasaran primer upaya pilar pertama. Ke dua, penguatan gerakan masal di komunitas. Hal ini bermakna, pihak-pihak di sekitar siswa SD (seperti guru kelas, TPUKS, orang tua, dan teman sebaya) juga perlu dilibatkan sebagai kendali sosial penanaman perilaku yang diupayakan. Ke tiga, penciptaan lingkungan yang mendukung. Hal ini dapat dicontohkan dengan pemasangan pamphlet cara mencuci tangan, menyediakan wastafel dengan kran yang berfungsi, dan menyediakan sabun. Ke empat, adalah re-orientasi dari fasilitas pelayanan kesehatan setempat, seperti penggalakan kerja TPUKS (Tim Pembina UKS), penambahan program kerja dokter cilik, dan pembinaan oleh Puskesmas Pembina. Terakhir, adalah kebutuhan dukungan kebijakan oleh para pengampu kepentingan atas program cuci tangan pakai sabun, termasuk di antaranya kepala sekolah, kepala puskesmas, dan dinas kesehatan setempat.

 

Kesemuanya ini, tentu tidak hanya melibatkan kegiatan pendidikan kesehatan (edukasi) saja. Lebih dari itu, upaya promosi kesehatan setidaknya melibatkan dua pendekatan lainnya, yakni advokasi dan mediasi. Upaya advokasi (bottom-up feeding policy) adalah salah satu peran utama perawat komunitas setelah menjadi case finder. Upaya advokasi bermakna menyampaikan informasi dan mempengaruhi kebijakan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan upaya promosi kesehatan agar menjadi perhatian pengampu kebijakan setempat. Tentunya, peran ini menjadi penting untuk menyuarakan kebutuhan kesehatan masyarakat yang perlu ditingkatkan. Selanjutnya, pendekatan mediasi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkaitan (pada contoh di atas), seperti guru, murid, dan orang tua murid SD saling bekerja sama membangun komitmen meningkatkan derajat kesehatan (pormosi kesehatan) untuk siswa SD.

 

Jika menilik definisi promosi kesehatan di atas, tentunya hal ini membawa konsekuensi besar terhadap kapasitas perawat kesehatan komunitas. Pada setiap program upaya promosi kesehatan, perawat memiliki kewajiban tidak hanya untuk tahu, mampu, dan mau untuk mengerjakan program yang diupayakan. Lebih dari itu, perawat di komunitas perlu membekali diri sebagai komunikator yang efektif, negosiator, lobbyist, advocator, dan pengembangan kompetensi sebagai strategic planner  untuk menjalankan tugas dan perannya. Setidaknya, pemahaman yang cukup terhadap konsep promosi kesehatan, pemahaman terhadap dasar hukum dan program-program kesehatan nasional menjadi modal dasar untuk menjalankan pilar-pilar promosi kesehatan. Kesemuanya, akan menjadi pondasi yang penting untuk mewujudkan masyarakat yang berdaya dalam mempromosikan kesehatannya secara mandiri. 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :