Health Pool

The groundwork for all happiness is good health. Leigh Hunt

12 Indikator Keluarga Sehat: Sedikit saja tentang tantangan yang kasat mata di Indonesia

12 June 2017 - dalam Tren dan Isu Oleh sethohadisuyatmana-fkp

 

Sehat bukan hanya soal mengobati dan mencegah penyakit. Lebih dari itu, status ‘sehat’ adalah hal yang perlu diupayakan melalui pendidikan, penanaman perilaku, dan peningkatan kesadaran akan perlunya kesehatan. Namun, apa ‘sehat’ itu sebenarnya? 
Secara definitif, WHO menterjemahkan status ‘sehat’ sebagai kondisi terbaik seseorang yang merupakan hak hidupnya. Status ‘sehat’ juga bermakna keadaan bebas penyakit fisik, mental, spiritual, dan sosial. Dalam konteks yang lebih luas dari individual (dapat berarti keluarga, atau lebih luas lagi, masyarakat), sehat dapat dimaknai sebagai kondisi optimum yang memungkinkan setiap elemen di dalamnya berfungsi dengan baik. Setidaknya kita harus sepakat bahwa, sakitnya individu dalam sebuah keluarga dapat menyebabkan keluarga tersebut secara keseluruhan tidak dapat berfungsi dengan baik. Sehingga, keluarga tersebut dapat dikatakan sedang ‘tidak sehat’. Sebagai contoh, jika anak dalam sebuah keluarga harus opname di rumah sakit, maka ayah dan ibu tidak dapat menjalankan fungsi pencari nafkah, pemelihara kehidupan sosial di masyarakat, dan fungsi lain sebagaimana mestinya. Karenanya, keluarga tersebut tidak dalam keadaan sedang ‘sehat’. Lalu, muncul sebuah pertanyaan: “Bagaimana Keluarga dapat dikatakan sehat?”
Sebelum kita membahas indikator-indikator sehat dalam keluarga, baiknya kita tahu bahwa Kementrian Kesehatan RI memprediksi pada tahun 2020 yang akan datang Indonesia akan mengalami ‘kebanjiran’ populasi masyarakat berusia produktif. Diperkirakan akan ada 164 juta orang generasi usia produktif di Indonesia yang diharapkan dapat membangun Indonesia. Tetapi kenyataannya, layanan jasa kesehatan di Indonesia  tidak pernah sepi pengunjung. Selalu overload dan kewalahan malah. Hal ini karena pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia masih jauh dari sukses. Nyatanya, target MDG’s masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar, dan Indonesia ditunjuk sebagai tim sukses pencapaian target-target yang keteteran itu dalam skema SDG’s. Masya Allaaah, ya wajar sih karena Indonesia punya 224 juta penduduk lebih yang tersebar di +7000 pulau (dari 17 ribuan keseluruhan) di nusantara.
Masalahnya, pemerataan infrastruktur, sumberdaya, dukungan hukum dan finansial, kesempatan, dan akses pendidikan dan kesehatan masih jauuuuh dari kata equal. Semoga saja (sih) dengan adanya era digital seperti saat ini, dapat menurunkan kesenjangan itu dan dapat mempercepat transfer informasi ke seluruh pelosok Indonesia agar perubahan perilaku kesehatan masyarakat dapat meningkat dan menurunkan beban layanan kesehatan di mana-mana. Lalu, apa ekspektasinya? Ya, dengan berperilaku sehat, diharapkan status ‘sehat’ dapat merata dan disandang setiap mereka yang mengupayakan melalui berperilaku sehat.
Secara sejarahnya, dahulu kita sudah familiar dengan “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat”. Sekarang, muncul gerakan masyarakat sehat (GEMAS) dan Indikator keluarga sehat. Harapannya, perilaku kesehatan yang diupayakan dapat mencapai, atau setidaknya, bertujuan mencapai 12 indikator keluarga sehat. 
“Apa saja?”
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mempromosikan 12 Indikator Keluarga Sehat ini bertujuan agar masyarakat secara mandiri mampu untuk menjaga kesehatannya dan merdeka dari ancaman penyakit. 12 Indikator ini terbagi ke dalam lima sub-indikator, di antaranya: Lima Indikator gizi kesehatan ibu dan anak, Dua Indikator pengedalian penyakit menular dan tidak menular, Dua Indikator perilaku sehat, Dua Indikator lingkungan sehat, dan Satu Indikator kesehatan jiwa, yang dijelaskan sebagai berikut:
Lima indikator dalam gizi, kesehatan ibu dan anak
1) Keluarga mengerti program keluarga berencana (KB)
2) Ibu hamil memeriksa kehamilannya sesuai standar
3) Balita mendapatkan imunisasi lengkap
4) Pemberian ASI Ekslusif 0-6 bulan
5) Pemantauan pertumbuhan balita

Dua Indikator dalam pengendalian penyakit menular dan tidak menular
6) Penderita hipertensi berobat teratur
7) Penderita TB paru berobat sesuai standar

Dua Indikator dalam perilaku sehat
8) Tidak adanya anggota keluarga yang merokok
9) Sekeluarga sudah menjadi anggota JKN

Dua indikator terkait lingkungan sehat
10) Mempunyai sarana air bersih
11) Menggunakan jamban keluarga

Satu Indikator kesehatan jiwa
12) Anggota keluarga akses dalam pelayanan kesehatan jiwa
Hal-hal di atas, dibahas di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No 39 tahun 2016 tentang Indonesia Sehat. Proyeksinya, pada tahun 2019 upaya peningkatan kesehatan berorientasi keluarga ini terimplementasi di 34 Provinsi dan 352 Kota/Kabupaten di seluruh Indonesia.
Tentunya, pendekatan ini berdampak terhadap bidang garap perawat kesehatan masyarakat di masa yang akan datang. Sebagai profesional kesehatan, peran utama kita adalah untuk mensosialisasikan gerakan ini, tentang strategi dan pelaksanaan yang tepat guna, adaptif, dan tepat sasaran. Kita sebagai perawat harus berperan dalam hal promotif dan preventif dalam bidang kesehatan, melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, penggunaan teknologi tepat guna, peng-implementasian upaya edukasi-advokasi-mediasi, dan peningkatan jejaring kerja layanan kesehatan di berbagai level pelayanan.  Mau lebih paham lagi? Baca peraturan perundang-undanganya dan Permenkes di atas ya!
Salam Sehat!

 

 



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :