Health Pool

The groundwork for all happiness is good health. Leigh Hunt

Ekonomi dan pendidikan memicu penelantaran kepada lansia?

11 June 2017 - dalam Ada Apa Dengan Kita Oleh sethohadisuyatmana-fkp

Pengabaian lansia yang melibatkan kelompok usia lanjut seringkali tidak pernah diketahui di manapun. Seperti halnya di Ampenan Nusa Tenggara Barat. Meski tidak ada bukti ilmiah seputar hal ini, nyatanya fenomena ini terjadi di sekitar kita. Sebuah pilot studi dan studi deskriptif yang kami lakukan (Maulana, Makhfudli, dan Hadisuyatmana) menemukan bahwa banyak lansia yang tinggal bersama keluarga besarnya hidup dalam keadaan yang kotor, kulit kering, dan mengalami kurang gizi.

Tiga puluh empat keluarga besar (extended family) yang tinggal dengan dan merawat lansia perempuan di wilayah kerja Puskesmas Ampenan yang kami libatkan secara purposif sebagai partisipan dalam penelitian di tahun 2015 menunjukkan bahwa mereka tidak menyadari telah menelantarkan lansia yang menjadi anggota keluarga mereka. Hasil penelusuran kami menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan dan minimnya kemampuan finansial keluarga memiliki korelasi yang kuat dengan peristiwa pengabaian lansia. Kondisi ini dapat menjelaskan faktor-faktor berhubungan dengan kejadian pengabaian lansia di kawasan timur Indonesia. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan signifikansi dan luasan dampak dari pengabaian terhadap lansia. Kami menemukan bahwa implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2004 dan Undang Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan dan perlindungan terhadap lansia belum berjalan secara baik di sana.

Entah, asumsi sementara kami, memang pelaksanaan peran Perawat Kesehatan Masyarakat belum dapat menyentuh kesejahteraan lansia secara umum. Mungkin juga, tidak menutup kemungkinan besar, bahwa Perawat sendiri tidak pernah menganggap kesejahteraan lansia di masyarakat sebagai hal penting. Padahal, satu tahap ujung proses kehidupan manusia adalah menua. Hal ini mengindikasikan, "kalau bukan kita yang memperjuangkan, siapa lagi? kalau tidak saat ini kita mulai, kapan lagi?".

Pada tahun yang sama, 2015, kami (Anis Fauziah, Ferninda Sagita Ramadani, Zukhaila Salma, Setho Hadisuyatmana) juga melakukan literature review tentang kesejahteraan dan perlindungan lansia di negeri kita ini. Kenyataannya, kami menyimpulkan bahwa seringkali pengabaian dan penelantaran lansia tidak pernah diketahui pasti. Padahal banyak diantara kasusnya berujung pada kriminalitas, dan menyebabkan kematian akibat kekerasan pada lansia. Topik ini memang sering dianggap sebagai aib keluarga, tabu, dan tidak perlu diketahui orang lain. Padahal jika kita yang berada di dalam posisi sebagai lansia yang menjadi korban, tentu kita membutuhkan pertolongan.

Sebagai perawat di lingkungan kerja yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, sebenarnya telah banyak alat yang telah dikembangkan para pakar luar negeri untuk membantu kita men-screening kejadian-kejadian yang tidak perlu terhadap lansia. Sebut saja EASI, EAI, dan alat lain untuk mendiagnosis dan mencegah kekerasan lebih lanjut kepada lansia. Kita memiliki peran penting terhadap hal ini, banyak solusi keperawatan yang dapat ditawarkan kepada keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan kepada lansia. Kita harus paham juga bahwa tidak mungkin mengharapkan kebijakan top-down mengenai hal ini. Kita punya peran sebagai client advocate yang dapat memberikan feeding policy  secara  bottom up kepada pemerintah setempat. Atau jangan-jangan banyak di antara sejawat (perawat kesehatan) yang justru masih awam terhadap isu ini.

Yah, memang apalah saya. Namun setidaknya sudah kami lakukan langkah advokasi isu ini kepada Dinas Kesehatan, Puskesmas dan profesional kesehatan, bahwa kita  memiliki peran penting untuk mendidik masyarakat sebagai langkah pertama untuk meningkatkan kualitas hidup dan menciptakan proses penuaan yang sejahtera bagi lansia di negeri yang kita cintai. 

 

Mau cek artikel yang berkaitan dengan bahasan ini? klik:

http://e-journal.unair.ac.id/index.php/JNERS/article/view/2248

dan search on Google:

International Conference on“Medical, Medicine and Health Sciences”(MMHS-2016), Tokyo, Japan, vol. 276-7



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :